AI, Pemilu, dan Kuasa Korporasi: Membaca Laporan Anthropic dari IndonesiaRekomendasi dari Devina Heriyanto Pada September lalu, perusahaan teknologi Anthropic yang memproduksi platform kecerdasan buatan (AI) Claude merilis laporan berjudul Detecting and countering misuse of AI. Laporan ini membahas aktivitas-aktivitas yang dinilai sebagai ancaman di Claude yang diidentifikasi dan dihentikan oleh tim internal Anthropic selama Desember 2025 hingga Agustus 2026. Anthropic mengatakan bahwa, “Kami menerbitkan laporan ini karena kami percaya kami memiliki tanggung jawab untuk terbuka soal penyalahgunaan layanan kami yang berbahaya. Seiring bertambah canggihnya model AI, risiko mereka akan meningkat, selama pengembang AI dan pelindung masyarakat bertindak untuk membuat mereka lebih aman.” Antonia Timmerman, kontributor Project Multatuli yang sebelumnya menerima hibah peliputan dari Pulitzer Center untuk menulis dampak AI pada pekerja media, membaca laporan penyalahgunaan AI dari Anthropic ini. Dalam Ide dan Esai yang dirilis hari ini, Antonia menyoroti potensi ancaman apa saja yang bisa dihadapi masyarakat Indonesia terutama menghadapi represi negara dan manipulasi opini menjelang Pemilu 2029. Akan tetapi, Antonia juga mengkritisi posisi Anthropic sebagai perusahaan pengembang AI. Menurutnya, selain sebagai bentuk transparansi perusahaan, laporan ini juga bertujuan menguatkan otoritas Anthropic yang sedang “berusaha memposisikan diri sebagai suara otoritas dalam industri pertahanan negara”. (Sebagai konteks tambahan, Anthropic sedang berseteru dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat soal penggunaan teknologinya dalam pemantauan massal dan senjata tanpa awak.) Lebih jauh lagi, Antonia juga mempertanyakan apakah Anthropic pihak yang tepat untuk mengidentifikasi dan menghentikan ancaman berbasis AI. Pada akhirnya, mereka tetap perusahaan yang punya agenda mempromosikan produknya.
Baca laporan-laporan Project Multatuli lainnya terkait AI dalam serial liputan #DampakAutomasi. Mulai dari janji-janji soal efisiensi dan dampak disrupsi AI ke pekerja media hingga penyalahgunaannya yang melanggengkan kekerasan seksual, AI mau tidak mau telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Serial liputan ini membahas sisi abu-abu yang tidak pernah tampil dalam marketing produk-produk AI. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
Siapa yang Membunuh Bambang Setiawan? Polisi dan #DaruratKekerasanAparat Rekomendasi dari Project Multatuli Anggota Polri dalam gerombolan hitam-hitam pengeroyok Fatur dan Bambang. (Project M) Pada 27 Agustus malam, Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Jakarta Barat, berumur 60 tahun, dikeroyok dan diseret dan dibunuh oleh gerombolan berpakaian hitam-hitam. Bambang adalah penjual cermin dan bingkai di toko Istaka Jaya Frame di Pejompongan Raya, berjarak 50 meter dari gang rumahnya. Ia...
Maramba Eti: Menyembuhkan Luka Perbudakan di Sumba dari Dalam Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tugas bersama pemerintah daerah, gereja, LSM, dan masyarakat adalah mengenali keberadaan perempuan ata serta memastikan hak-hak dasar dan martabat mereka tidak lagi terabaikan. (Project M/Sekarjoget) Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik pada bulan Juli 2026 setelah terbitnya artikel dari kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP) tentang dugaan perbudakan,...
Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan Rekomendasi dari Devina Heriyanto Sejarah menunjukkan bagaimana bencana yang diikuti pengabaian dan ketidakadilan dapat menumpuk menjadi kemarahan politik. (Project M/Marco Anthony) Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 4 September pukul 23.07 WIB menambah panjang deretan kegagalan pemerintah menanggulangi bencana alam di Indonesia. Efisiensi yang dilakukan pemerintah untuk membiayai program flagship...