Ancaman Terselubung Geothermal di Dieng dan Poco LeokRekomendasi dari Devina Heriyanto Pertengahan September, Presiden Joko Widodo meminta jajarannya mempercepat izin energi panas bumi demi komitmen untuk transisi ke energi hijau. Tetapi, apakah pemerintah benar-benar yakin geothermal adalah energi yang ramah lingkungan dan berkeadilan? Meski diklaim sebagai sumber energi baru terbarukan, geothermal membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mengekstraksi cairan panas dari perut bumi. Aktivitas ini memicu keluarnya berbagai mineral berbahaya ke atmosfer. Ambisi untuk meningkatkan produksi mendorong pengembangan teknologi Hydraulic Fracturing atau fracking yang bisa mengganggu stabilitas tanah dan berkontribusi dalam pencemaran air di lingkungan sekitar sumur dan pembangkit listrik. Di Dieng, Jawa Tengah, geothermal yang dioperasikan PT Geo Dipa menyebabkan pencemaran udara, air, dan tanah. Di salah satu dusun dekat pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), bau gas seperti telur busuk mudah tercium. Warga mengeluhkan kualitas air yang terasa asin, sebagiannya berbau dan berwarna kekuningan. Selain mengganggu kehidupan dan kesehatan sehari-hari, aktivitas geothermal juga diduga menjadi penyebab turunnya produktivitas akibat gagal panen kentang di Dieng. Laporan Ronna Nirmala menguji klaim geothermal sebagai energi hijau yang ramah lingkungan, terutama soal dampaknya ke warga sekitar yang paling rentan dirugikan. Liputan ini bagian dari kolaborasi bertajuk “Ground Truths” untuk menelusuri kondisi tanah di kawasan Asia Pasifik. Liputan didukung Earth Journalism Network (EJN).
Warga Poco Leok di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pun terus menolak proyek geothermal di wilayah mereka, menurut laporan rekan kami Floresa.co. Proyek geothermal Poco Leok merupakan perluasan dari PLTP Ulumbu yang sudah beroperasi lebih dari satu dekade lalu dan berada sekitar tiga kilometer arah barat Poco Leok. Proyek ini bagian dari proyek strategis nasional di Flores,yang masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN 2021-2030. Pemimpin Redaksi Floresa, Herry Kabut mengalami kekerasan dari aparat saat meliput aksi unjuk rasa warga di Poco Leok pada 2 Oktober. Dalam peristiwa saat aksi protes menentang proyek geothermal itu, Herry mengalami sejumlah tindak kekerasan, selain ponselnya dirampas oleh polisi lalu memeriksanya. Kronologi selengkapnya bisa dibaca di situs Floresa.co. Kami mengutuk tindakan represi aparat negara terhadap kerja-kerja jurnalistik sebagaimana dialami rekan kami di Floresa. Dalam iklim politik yang semakin mendenominasi kerja-kerja mencari kebenaran dan menyuarakan keadilan, suatu tugas yang diemban jurnalisme, dukungan publik sangat berarti bagi kami agar kami terus melakukan pekerjaan berisiko ini. Jadilah pendukung kebenaran sebagai Kawan M. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
#DeadPressSociety: Masihkah ada kebebasan pers di Indonesia? Sebagai gambaran represi pers hari-hari ini, yang dituturkan narasumber kami: ada pejabat pemerintah yang rutin mengontak petinggi redaksi atau bos perusahaan media untuk protes soal pemberitaan, minta berita diturunkan, bahkan mengancam kelangsungan bisnis perusahaan. (Project M/Aan K. Riyadi) Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia sekaligus lima tahun berdirinya Project Multatuli, kami ingin mengabarkan soal...
Selamat Hari Buruh untuk Semua Pejuang Rupiah Rekomendasi dari Devina Heriyanto Kelas Pekerja Ibu Kota Pergi Gelap Pulang Gelap, Menghadapi Pelecehan di Perjalanan demi Uang Lemburan Cerita Foto oleh Edy Susanto | Pertama terbit 14 April 2023 Fotografer Edy Susanto merekam perjalanan Zahra Nabila Zulkifli (21), seorang pelaju dan pengguna KRL dari Bogor yang berangkat subuh untuk bisa sampai ke tempat kerjanya di Jakarta. Sebagai kelas pekerja yang mesti membiayai keluarganya juga, Zahra...
Memperkenalkan ‘Jendela Perempuan’ dari Project Multatuli Rekomendasi dari Margareth Ratih, Manajer Jendela Perempuan Ilustrasi: Hirah Sanada Jendela Perempuan adalah upaya untuk meningkatkan “keterlihatan dan keterdengaran” mereka yang paling diabaikan di industri media melalui koleksi kisah digital yang bisa membuka wawasan kita tentang karya dan kerja perawatan mereka: perempuan adat dan perempuan yang dipinggirkan. Mereka adalah perempuan-perempuan yang menjaga alam dan budaya, garda...