Memperkenalkan ‘Jendela Perempuan’ dari Project MultatuliRekomendasi dari Margareth Ratih, Manajer Jendela Perempuan Jendela Perempuan adalah upaya untuk meningkatkan “keterlihatan dan keterdengaran” mereka yang paling diabaikan di industri media melalui koleksi kisah digital yang bisa membuka wawasan kita tentang karya dan kerja perawatan mereka: perempuan adat dan perempuan yang dipinggirkan. Mereka adalah perempuan-perempuan yang menjaga alam dan budaya, garda depan ketahanan pangan, dan memperjuangkan haknya. Inisiatif ini dipantik kesadaran bahwa seiring banyaknya ketidakadilan di sekitar kita, para jurnalis, peneliti, seniman, cenderung menjadikan laki-laki di perkotaan, biasanya Jakarta, untuk bicara. Kebanyakan dari mereka adalah politisi, pejabat, pengusaha, akademisi, pengacara, pemuka agama. Mereka bicara panjang lebar tentang pendekatan dan regulasi yang mengatur hidup warga. Sebaliknya, perempuan rentan di pinggiran kota besar, kota kecil, atau perdesaan, apalagi yang muda dan berada di luar Jawa, menjadi kelompok demografi yang sangat tidak didengarkan suaranya. Padahal, beban kerja produktif dan reproduktif perempuan yang berjalin pintal dengan berbagai persoalan, justru memberikan dampak-dampak signifikan bagi kelompoknya dalam beragam skala. Kerja-kerja mereka, yang kebanyakan dilakukan secara kolektif, dianggap sebagai sesuatu yang adikodrati dan tidak perlu dibahas, apalagi dimaknai sebagai pengetahuan yang memperkaya peradaban. Kecenderungan dalam proses produksi informasi dan pengetahuan yang lebih menganggap penting kerja laki-laki, membuat pengalaman dan pengetahuan perempuan jarang sekali dicatat dan dipublikasikan. Apalagi sampai jadi bahan pertimbangan utama dalam regulasi yang dibuat penyelenggara negara. Hal ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Berkaitan dengan itu, Jendela Perempuan digagas dan dijalankan dengan beberapa prinsip; menjunjung perspektif perempuan, kolaboratif dan lintas isu, serta mengedepankan akuntabilitas dan keamanan. Sedapat mungkin narasi yang ditampilkan mendukung gagasan, emosi, dan praktik kerja para perempuan sebagai pemilik pengetahuan. Kerja-kerja ini bisa terwujudkan karena melibatkan para kolaborator lintas disiplin, isu, dan lapis identitas (interseksional) untuk merekam pengetahuan perempuan secara inklusif. Bersamaan dengan itu, aspek lain yang selalu diusahakan adalah memastikan keamanan informasi atas komunitas dan individual yang narasinya ditampilkan. Kenali kami dengan berkunjung dan menjelajahi website Jendela Perempuan di jendela.projectmultatuli.org. Kami juga menyambut baik ajakan kolaborasi lewat jendela@projectmultatuli.org. Ikuti akun kami di Instagram @jendela.perempuan untuk informasi soal artikel terbaru yang kami kurasi.
Rekomendasi Artikel di Jendela PerempuanPerempuan Batu Busuk dan Tanaman Obat dari Hutan Bukit BarisanKolaborator: Roehana Project, Padang Ibu-ibu rumah tangga di Batu Busuk, Padang, mempraktikkan pengolahan obat tradisional dari sumber daya yang disediakan oleh hutan Bukit Barisan dari generasi ke generasi. Pengetahuan dan praktik ini kemudian berkembang, hingga dibentuklah kelompok yang fokus mengembangkan produk ramuan dari tanaman obat tersebut. Kolektif ini dinamai Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Padusi Etnobotani. Menjaga ‘Saudara Kembar’ ala Perempuan Adat Pulau KomodoKolaborator: Floresa, Ruteng Ata modo adalah warga suku asli yang mendiami pulau di dalam kawasan taman nasional Komodo, Manggarai Barat, NTT. Keyakinan mitologis bahwa komodo dan nenek moyang mereka lahir dari rahim yang sama memengaruhi cara Ata Modo, khususnya kaum perempuan, memperlakukan satwa langka tersebut. Merawat yang Tersisa: Dari Sekolah Adat Sampai ke KebunKolaborator: Titastory, Ambon Nuduasiwa adalah sekolah adat di Seram Bagian Barat, Maluku, yang dibangun sebagai bentuk transfer pengetahuan kepada generasi muda di sana. Murid-muridnya kebanyakan anak-anak kelahiran 2000-an, yang diajari berbagai keterampilan dasar kehidupan sehari-hari orang Seram. Selain itu, bahasa Wemale, bahasa lokal di Seram, juga menjadi salah satu pelajaran utama di Nusuadiwa. Perempuan Wajo Menjaga Napas SutraKolaborator: Bollo.id, Makassar Di rumah keluarga Dinar, atau yang dikenal Haji Nare, pengetahuan menenun diwariskan. Perempuan asal Desa Sempange, Wajo, ini tak lagi duduk saban hari di kursi penenun. Usia, banyaknya pesanan, serta tanggung jawab rumah tangga membuatnya beralih peran. Kini Haji Nare lebih sering mengatur alur kerja, menjaga kualitas, dan merawat relasi. Pengetahuan yang Bertahan di Tangan Perempuan Sipora, Saat Alam Tak Lagi SamaKolaborator: Roehana Project, Padang Lemi, Firda, dan Rina adalah wakil perempuan-perempuan Sipora yang jarang tercatat apalagi dibicarakan. Mereka berjibaku di ladang, sungai, bahkan laut, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari menjaga kelestarian alam. Seiring zaman yang terus bergerak, alam yang berubah, dan cara hidup masyarakat yang bergeser, pengetahuan ekologis yang mereka miliki sangat penting untuk diwariskan ke generasi berikutnya. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
#DeadPressSociety: Masihkah ada kebebasan pers di Indonesia? Sebagai gambaran represi pers hari-hari ini, yang dituturkan narasumber kami: ada pejabat pemerintah yang rutin mengontak petinggi redaksi atau bos perusahaan media untuk protes soal pemberitaan, minta berita diturunkan, bahkan mengancam kelangsungan bisnis perusahaan. (Project M/Aan K. Riyadi) Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia sekaligus lima tahun berdirinya Project Multatuli, kami ingin mengabarkan soal...
Selamat Hari Buruh untuk Semua Pejuang Rupiah Rekomendasi dari Devina Heriyanto Kelas Pekerja Ibu Kota Pergi Gelap Pulang Gelap, Menghadapi Pelecehan di Perjalanan demi Uang Lemburan Cerita Foto oleh Edy Susanto | Pertama terbit 14 April 2023 Fotografer Edy Susanto merekam perjalanan Zahra Nabila Zulkifli (21), seorang pelaju dan pengguna KRL dari Bogor yang berangkat subuh untuk bisa sampai ke tempat kerjanya di Jakarta. Sebagai kelas pekerja yang mesti membiayai keluarganya juga, Zahra...
Restorasi Ekosistem Riau: Klaim Konservasi untuk Kepentingan Konglomerasi Pelaku Deforestasi Rekomendasi dari Project Multatuli Sejumlah rumah terlihat di dalam kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau. Kementerian Kehutanan mengupayakan pengelolaan RER bisa menjadi model panutan karena melibatkan sektor swasta, pemerintah, dan peran aktif masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. ANTARA FOTO/FB Anggoro/ss/nz/13. Dalam beberapa tahun...