Bacaan Akhir Pekan: Analisis Danantara & Perburuan Polisi yang Masih BerlanjutRekomendasi dari Devina Heriyanto Pekan ini, Project Multatuli menerbitkan dua tulisan dengan tema berkelanjutan. Hanya saja, berkelanjutan dalam artian daya rusaknya. Permata Adinda, jurnalis Project M, menulis analisis terkait lembaga pengelola dana kekayaan negara (SWF) yang berjudul "Dari Danantara untuk PSN: Mainan Baru Taipan Perusak Lingkungan di Lingkar Kekuasaan". Di atas kertas, Danantara yang digagas Presiden Prabowo Subianto punya misi mewujudkan “pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan”. Kenyataannya, ia jadi alat konsolidasi ekonomi para oligark lama, berkedok hijau tapi mendanai proyek-proyek ekstraktif yang merusak lingkungan. Analisis ini menyoroti proses hukum di balik Danantara, tidak adanya aturan etik atau lingkungan seperti yang umum terdapat pada SWF lain, hingga relasinya dengan proyek strategis nasional (PSN) yang memuluskan ekspansi industri ekstraktif yang hanya menguntungkan kroni pemerintah. “Kami khawatir Danantara justru akan menjadi akselerator kerusakan Indonesia," kata Novita Indri, juru kampanye Trend Asia.
Pada bulan Maret, Permata Adinda juga pernah menulis analisis terkait akrobat hukum di balik PSN, dalam tulisan "Anatomi Kegelapan Kebijakan PSN". *** Alfian Putra Abdi, jurnalis Project M, menulis laporan lanjutan dari perburuan polisi atas warga sipil yang dituduh sebagai penyebab kerusuhan pada demonstrasi di akhir Agustus dan awal September. Catatan LBH-YLBHI per 27 September 2025 menemukan bahwa polisi telah menetapkan 960 orang sebagai tersangka terkait aksi protes pada Agustus 2025. Di Kediri, Jawa Timur, seorang pelajar ditangkap tanpa surat pemberitahuan dan dituduh sebagai pelaku kerusuhan. Selama di tahanan, polisi melarang ia membaca buku-buku filsafat kesukaannya. Bagi aparat, minatnya pada filsafat adalah mencurigakan, seturut tuduhan yang mereka buat. Di Bandung, Jawa Barat, seorang pemuda ditangkap hanya karena berada di warung saat polisi memukul mundur massa aksi. Meski sudah menjelaskan bahwa dirinya bukan pendemo, dia tetap diangkut ke mobil tahanan. Selama proses penangkapan hingga interogasi, ia mengaku mengalami kekerasan yang dilakukan polisi.
Sebagai gerakan jurnalisme publik, Project Multatuli ada untuk melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Dalam tahun pertama pemerintahan Prabowo, kita sama-sama menyaksikan peminggiran dan penindasan terhadap warga dalam berbagai lintas kehidupan. Negara pun dikelola sebagai sumber keuntungan bagi pihak-pihak tertentu saja. Oleh karena itu, kehadiran media independen makin penting untuk, kalau tidak bisa menghentikan, setidaknya mencatat ketidakadilan dan penyelewengan yang terjadi. Project Multatuli ingin hidup dari pembaca. Saat ini, kami mempunyai 476 pendukung aktif yang kami sebut Kawan M. Jika kamu merasa kerja-kerja jurnalisme publik ini bermakna, tolong bantu kami sebagai Kawan M. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
Semakin Ditekan, Semakin Melawan: Gen Z Diberangus Rezim Prabowo Rekomendasi dari Devina Heriyanto Ilustrasi perburuan dan pembungkaman massal setelah demonstrasi Agustus-September 2025. (Project M/Erriz Dwi) Perburuan dan pembungkaman massal pasca-demonstrasi Agustus-September 2025 membuat 703 orang menjadi tahanan politik di seluruh Indonesia. Permata Adinda menulis analisis profil tahanan politik berdasarkan data yang diterbitkan Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi (GMLK) per 14 Februari...
Masalah Perburuhan di Indonesia: Standard Kesehatan Diskriminatif, Pekerjaan Rentan Masalah, Risiko Tanggung Sendiri Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tiga reportase terbaru dari Project Multatuli membahas soal peliknya isu perburuhan di Indonesia. Bukan hanya kesulitan mencari pekerjaan yang layak seperti yang dialami oleh anak muda #GenerasiCemas, permasalahannya juga mencakup standard kesehatan yang menutup akses bagi banyak orang, tidak adanya perlindungan dari beban kerja yang...
Bacaan Akhir Pekan: Jurnalisme Murah, Hidup dan Demokrasi yang Mahal Rekomendasi dari Devina Heriyanto Dua dunia kerja dijalani bersamaan oleh Deasy, jurnalis di Jawa Timur, karena profesi utama sebagai jurnalis tidak bisa membiayai hidupnya. (Project M/Muni Moon) Siapa yang masih mau jadi jurnalis? Apa untungnya? Tahun lalu, dalam sebuah acara jurnalisme, saya dan beberapa anggota tim Project Multatuli mengobrol dengan dosen-dosen dari berbagai universitas. Salah satu topik yang dibahas...