#TraumaLintasGenerasi: Ketika Anak Muda Hidup dengan Luka Kekerasan Negara yang Terus Menganga


#TraumaLintasGenerasi: Ketika Anak Muda Hidup dengan Luka Kekerasan Negara yang Terus Menganga

Rekomendasi dari Devina Heriyanto

Dalam semangat Hari HAM yang diperingati sedunia pada 10 Desember, Project Multatuli menerbitkan serangkaian tulisan dalam serial #TraumaLintasGenerasi.

Serial ini berfokus pada kisah-kisah personal terkait kejahatan kemanusiaan negara, dari sudut pandang generasi ketiga dan seterusnya. Serial ini adalah ruang untuk mencatat luka sebagai ruang pemulihan trauma di tengah pengabaian negara yang terus berupaya menyembunyikan peran kejahatannya.

Dhianita Menerabas Trauma Genosida 1965 dengan Menelusuri Sejarah Keluarga

Penulis: Lilik HS

Setiap pulang sekolah dasar, Dhianita duduk di rumah kakek dan mendengarkan ceritanya saat menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Kakeknya, Suwadi, yang dipanggil Pak Wadi, memiliki bundelan kertas kuning usang–salinan memoar Pramoedya Ananta Toer selama pembuangan di Pulau Buru.

Dhianita berkata kakeknya adalah guru sejarah pertamanya, yang membuka matanya dengan buku dan sejarah yang berbeda dari yang diperoleh di sekolah. Upayanya mendokumentasikan sejarah kekerasan negara yang ditutup-tutupi pemerintah ini memantik keberanian dan semangat dalam generasi kedua dan ketiga korban, termasuk pelan-pelan menyembuhkan luka ibunya sendiri.

[Baca selengkapnya]

Bapak Saya Dihilangkan Negara, 28 Tahun Kemudian Saya Masih Mencari Keadilan

Penulis: Hardingga | Fotografer: Adrian Mulya

Hardingga kehilangan ayahnya, Yani Afri, saat belum genap empat tahun. Bapaknya pergi pada 26 April 1997. Akan tetapi, keluarga baru memberitahunya bahwa bapak sudah meninggal dunia beberapa tahun kemudian. “Sejak saya kecil, kisah tentang bapak selalu samar,” tulisnya.

Dalam tulisan yang sangat personal, Hardingga bercerita bagaimana ia mulai mencari tahu cerita soal kehilangan ayahnya. Bagaimana perasaannya campur aduk ketika akhirnya ibunya mulai bercerita, bagaimana ia sendiri menyadari trauma mendalam yang ibunya derita. Bagaimana ia, di tengah tuntutan ekonomi dan psikologis yang berat, menolak uang Rp1 miliar dari sirkel pemerintahan Prabowo Subianto yang ditawarkan untuk beberapa keluarga korban.

“Saya tidak ingin orang lain merasakan apa yang saya rasakan. Itu alasan terkuat saya terus berjuang,” kata Hardingga.

[Baca selengkapnya]

Merawat adalah Melawan

Penulis: Kania Mamonto

“Selewat satu tahun Prabowo Subianto berkuasa, saya masih kerap merasa kalah dan terpukul,” tulis Kania dalam pembuka esainya.

Kania, yang sehari-hari bekerja sebagai deputy manager Asia Justice and Rights (AJAR) Indonesia, menyoroti budaya impunitas yang sudah mengakar dan terus menjalar di negara kita. Kekerasan masa lalu yang tidak pernah diselesaikan pada akhirnya melahirkan kekerasan-kekerasan baru di masa kini.

Dalam tulisannya, Kania menggarisbawahi pentingnya kerja-kerja kolektif untuk meneruskan pengetahuan dengan merawat ingatan sebagai upaya melawan impunitas.

[Baca selengkapnya]

Project Multatuli

Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.

Read more from Project Multatuli

Habis Gelap di Batam, Terbitlah Terang di Singapura Rekomendasi dari Devina Heriyanto Seorang warga menanak nasi di rumahnya di Pulau Mubut, Karas, Batam, Kepulauan Riau. Warga pulau-pulau kecil yang sebagian besar nelayan hanya menginginkan listrik yang stabil, cukup untuk kebutuhan sehari-hari seperti menyimpan ikan di kulkas atau membuat es, mencuci pakaian, menonton televisi tanpa harus menunggu sore datang. (Project M/Andaru KZ) Lee Kuan Yew, perdana menteri Singapura pertama, pernah...

Laman Khusus Dosa-dosa PSN Rekomendasi dari Project Multatuli Laman khusus serial #ProyekSengsaraNasional Project Multatuli meluncurkan laman khusus untuk serial #ProyekSengsaraNasional yang membahas daya rusak masif dan kekuasaan semena-mena di balik proyek-proyek dengan label Proyek Strategis Nasional (PSN). Sejak pertama diperkenalkan pada 2016, skema PSN jadi jalan bebas hambatan bagi mereka yang punya uang dan akses ke kekuasaan. Tanpa partisipasi publik, aturan diutak-atik untuk...

Kisah Horor Kampung Kebon Sayur: Dihantui Mafia Tanah dan Penggusuran Rekomendasi dari Devina Heriyanto Vince Tama (59), akrab disapa tante Vince, asal Manado, Sulawesi Utara. Ia, salah satu warga Kebon Sayur, yang rumah dan usaha lapak pasir bersama almarhum suaminya sejak 20-an tahun lalu, sudah rata digaruk beko. Saat ini, ia berusaha menanam jagung di lahan yang sudah ditimbun tanah merah. (Project M/Adrian Mulya) Tanpa surat resmi, alat berat menggusur rumah-rumah di Kampung Kebon Sayur,...