Habis Gelap di Batam, Terbitlah Terang di Singapura


Habis Gelap di Batam, Terbitlah Terang di Singapura

Rekomendasi dari Devina Heriyanto

Lee Kuan Yew, perdana menteri Singapura pertama, pernah berkata bahwa AC merupakan penemuan teknologi terhebat di abad 20. Pasalnya, tanpa AC, tidak mungkin orang Singapura bisa fokus bekerja.

Entah berkat AC atau kebijakan ekonomi-politiknya, Singapura kini jadi negara maju yang terang-benderang, dengan AC dingin di setiap gedungnya.

Di seberang Selat Malaka, terpisah batas negara, ada warga di kampung-kampung Batam yang masih belum bisa mendapatkan listrik stabil selama 24 jam. Jangankan AC, nelayan bahkan tidak bisa menyalakan kulkas untuk membuat es dan mengawetkan ikan tangkapan.

Kontributor Project Multatuli, Muhammad Ishlahuddin, menuliskan upaya warga mendapatkan listrik di beberapa pulau di Batam, mulai dari patungan untuk membeli solar agar genset bisa menyala hingga menyerahkan nasib pada panel surya yang sudah menua.

Kisah Pulau Panjang, Mubut, Caros, Air Mas dan Mecan di Batam sesungguhnya bukan sekadar potret keterbelakangan lokal. Namun, cerminan dari persoalan lebih besar, yakni gagalnya negara memastikan keadilan energi di wilayah kepulauan. Di saat kampung nelayan di Batam masih menyalakan genset lima jam sehari, investasi miliaran dolar justru mengalir untuk ekspor listrik hijau ke Singapura.

Di atas kertas, rencana ekspor listrik hijau dari Batam ke Singapura tampak menjanjikan. Akan tetapi, tak semua kapasitas listrik hijau itu akan digunakan untuk warga Batam. Padahal, warga Batam yang harus menanggung dampak sosial-lingkungan dari megaproyek energi.

Tonton dokumenter “Union” secara daring

Pekan lalu, Project Multatuli berkolaborasi dengan Ashoka Indonesia dan PUSAD Paramadina mengadakan acara penayangan film dokumenter “Union” dan diskusi soal pengorganisiran masyarakat. Ashoka Indonesia bersama dengan PUSAD Paramadina lewat program Layar Gaharu telah secara rutin mengadakan penayangan film dokumenter berdampak secara gratis. “Union” adalah film pilihan untuk bulan November 2025.

Pembaca Project M dan Kawan M yang tidak sempat datang ke acara penayangan tersebut bisa menontonnya secara daring lewat tautan ini bit.ly/ai-layargaharu2025 (perlu mendaftar lebih dulu untuk bisa mengakses filmnya secara gratis).

Film “Union” adalah dokumenter yang menceritakan perjuangan pekerja gudang di New York, Amerika Serikat, untuk mendirikan Serikat Pekerja Amazon (Amazon Labor Union) dengan sumber daya terbatas. Mereka melawan Amazon, perusahaan teknologi raksasa AS yang sudah lama dikritik atas kondisi kerja yang tidak manusiawi dan pemberangusan serikat pekerja. Tapi “Union” tidak cuma menghadirkan kisah Daud melawan Goliat, tapi juga bagaimana pendiri serikat menavigasi perpecahan dan perbedaan di dalam kelompok pekerja sendiri.

Project Multatuli

Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.

Read more from Project Multatuli

Semakin Ditekan, Semakin Melawan: Gen Z Diberangus Rezim Prabowo Rekomendasi dari Devina Heriyanto Ilustrasi perburuan dan pembungkaman massal setelah demonstrasi Agustus-September 2025. (Project M/Erriz Dwi) Perburuan dan pembungkaman massal pasca-demonstrasi Agustus-September 2025 membuat 703 orang menjadi tahanan politik di seluruh Indonesia. Permata Adinda menulis analisis profil tahanan politik berdasarkan data yang diterbitkan Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi (GMLK) per 14 Februari...

Masalah Perburuhan di Indonesia: Standard Kesehatan Diskriminatif, Pekerjaan Rentan Masalah, Risiko Tanggung Sendiri Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tiga reportase terbaru dari Project Multatuli membahas soal peliknya isu perburuhan di Indonesia. Bukan hanya kesulitan mencari pekerjaan yang layak seperti yang dialami oleh anak muda #GenerasiCemas, permasalahannya juga mencakup standard kesehatan yang menutup akses bagi banyak orang, tidak adanya perlindungan dari beban kerja yang...

Bacaan Akhir Pekan: Jurnalisme Murah, Hidup dan Demokrasi yang Mahal Rekomendasi dari Devina Heriyanto Dua dunia kerja dijalani bersamaan oleh Deasy, jurnalis di Jawa Timur, karena profesi utama sebagai jurnalis tidak bisa membiayai hidupnya. (Project M/Muni Moon) Siapa yang masih mau jadi jurnalis? Apa untungnya? Tahun lalu, dalam sebuah acara jurnalisme, saya dan beberapa anggota tim Project Multatuli mengobrol dengan dosen-dosen dari berbagai universitas. Salah satu topik yang dibahas...