Bacaan Akhir Pekan: Jurnalisme Murah, Hidup dan Demokrasi yang Mahal


Bacaan Akhir Pekan: Jurnalisme Murah, Hidup dan Demokrasi yang Mahal

Rekomendasi dari Devina Heriyanto

Siapa yang masih mau jadi jurnalis? Apa untungnya?

Tahun lalu, dalam sebuah acara jurnalisme, saya dan beberapa anggota tim Project Multatuli mengobrol dengan dosen-dosen dari berbagai universitas. Salah satu topik yang dibahas adalah soal menyusutnya peminat untuk jurusan atau konsentrasi jurnalisme di kampus. Katanya, anak muda lebih tertarik menjadi content creator ketimbang jurnalis.

Ini anekdotal, tapi membuat saya mempertanyakan soal jurnalisme sebagai sebuah profesi jangka panjang. Sejak mengalami PHK pada 2020 dari sebuah media arusutama, saya dan kolega ramai-ramai pindah profesi dan industri: saya sempat masuk perusahaan modal ventura sebelum kembali ke industri media, sementara mantan kolega saya tersebar di NGO, perusahaan teknologi, agensi, bahkan badan pemerintah.

Jurnalisme masa kini terhimpit antara represi dan tekanan ekonomi. Sulit bagi jurnalis untuk tetap melakukan kerja-kerja jurnalisme yang berintegritas, mengikuti etik, dan berpihak pada publik ketika industrinya sendiri tidak stabil.

Esai foto dari Muni Moon, jurnalis foto asal Surabaya, menyoroti permasalahan ini. Banyak jurnalis yang harus memiliki pekerjaan sampingan agar bisa bertahan hidup. Meski sadar bahwa jurnalisme tidak membuat mereka sejahtera, mereka tetap menjalani profesi ini demi idealisme pribadi.

Dalam pendampingannya terhadap jurnalis, Salawati Taher, advokat dari LBH, melihat persoalan utama justru bukan dimulai dari kekerasan fisik atau kriminalisasi, melainkan ketiadaan kontrak kerja yang jelas.

Masalah kesejahteraan jurnalis bukan cuma soal keuangan pribadi, tapi juga soal demokrasi. Menurut Sala, jurnalis yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi adalah situasi yang menguntungkan bagi kekuasaan.

“Jurnalis yang tidak sejahtera itu jurnalis yang mudah dikendalikan. Mereka tidak punya ruang untuk melawan, karena hidupnya sendiri belum selesai,” kata Sala.

Dukung kerja-kerja jurnalisme publik Project Multatuli dengan menjadi Kawan M, mulai dari Rp30 ribu per bulan. Dukunganmu membuat kami tetap bisa membayar pekerja secara layak, bebas dari tekanan mencari pengiklan atau menghamba klik dan sensasi di internet, sekaligus memastikan semua artikel kami bisa diakses tanpa paywall.

Project Multatuli

Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.

Read more from Project Multatuli

Semakin Ditekan, Semakin Melawan: Gen Z Diberangus Rezim Prabowo Rekomendasi dari Devina Heriyanto Ilustrasi perburuan dan pembungkaman massal setelah demonstrasi Agustus-September 2025. (Project M/Erriz Dwi) Perburuan dan pembungkaman massal pasca-demonstrasi Agustus-September 2025 membuat 703 orang menjadi tahanan politik di seluruh Indonesia. Permata Adinda menulis analisis profil tahanan politik berdasarkan data yang diterbitkan Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi (GMLK) per 14 Februari...

Masalah Perburuhan di Indonesia: Standard Kesehatan Diskriminatif, Pekerjaan Rentan Masalah, Risiko Tanggung Sendiri Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tiga reportase terbaru dari Project Multatuli membahas soal peliknya isu perburuhan di Indonesia. Bukan hanya kesulitan mencari pekerjaan yang layak seperti yang dialami oleh anak muda #GenerasiCemas, permasalahannya juga mencakup standard kesehatan yang menutup akses bagi banyak orang, tidak adanya perlindungan dari beban kerja yang...

Ketika Debu Merah Mengepung Desa Hakatutobu Rekomendasi dari Devina Heriyanto Sedimen lumpur pekat di bawah rumah-rumah kampung nelayan Hakatutobu, yang dulunya perairan pesisir yang tenang, jadi tambatan perahu. (Project M/Alfian Putra Abdi) “Desa Hakatutobu terletak di pesisir pantai dengan pemandangan laut yang indah dan dikelilingi oleh kawasan tambang yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah.” Begitu yang tertulis dalam situs resmi Desa Hakatutobu, Kec. Pomalaa, Kab. Kolaka,...