Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan PemberontakanRekomendasi dari Devina Heriyanto Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 4 September pukul 23.07 WIB menambah panjang deretan kegagalan pemerintah menanggulangi bencana alam di Indonesia. Efisiensi yang dilakukan pemerintah untuk membiayai program flagship Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), berdampak kepada kemampuan lembaga negara yang berkaitan dengan mitigasi bencana seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berada di bawah Badan Geologi. Pemerintah lambat dalam merespons erupsi dan dampaknya, bahkan rilis pesan layanan masyarakat pun beredar belakangan. Ketika abu dari erupsi Anak Krakatau sampai ke wilayah Jakarta misalnya, banyak orang yang tidak mengetahui bahaya dari abu dan tetap menjalani aktivitas car free day pada Minggu pagi tanpa perlindungan masker dan kacamata. Tentu saja, yang terjadi di Jakarta tidak sebanding dengan apa yang terus-menerus dialami oleh warga Banten, Flores, Kalimantan, dan Sumatra. Bantuan pemerintah kepada korban gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur, kalah cepat dan layak dibandingkan dengan bantuan mandiri yang dikelola komunitas warga dan gereja. Kegagalan pemerintah Indonesia dalam memadamkan asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan bahkan telah menjadi perhatian warga Malaysia, Brunei, Singapura, dan Filipina. Bahkan dalam penanggulangan bencana banjir dan longsor besar di Sumatra, pemerintah masih kepayahan setelah hampir sepuluh bulan. Banyak korban yang merasa kebutuhannya diabaikan dalam pemulihan, mulai dari perempuan dan anak-anak hingga keluarga yang anggotanya punya kebutuhan khusus. Salah satu narasumber dari Tapanuli Tengah sampai mempertanyakan apakah mereka masih dianggap warga negara Indonesia. Dalam sejarah bangsa Indonesia, pengabaian dan penderitaan yang menahun pasca-bencana pernah menjadi pemicu pemberontakan warga. Piet Sukendar dalam Ide dan Esai yang berjudul “Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan” membahas bagaimana letusan Krakatau pada Agustus 1883 menumpuk kemarahan rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda selama lima tahun hingga pecah Geger Cilegon.
Tulisan opini ini adalah bagian dari serial #RezimGagapDarurat, yang membahas betapa lambat dan tidak mampunya pemerintah menangani bencana-bencana di tanah air, mulai dari banjir dan longsor besar Sumatra, gempa Flores, dan kebakaran hutan di Kalimantan. Penanganan pasca-bencana yang tidak mempertimbangkan kebutuhan dan melibatkan partisipasi warga juga membuat bantuan tidak tepat sasaran, berlawanan dari esensi pemulihan yang sesungguhnya. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
AI, Pemilu, dan Kuasa Korporasi: Membaca Laporan Anthropic dari Indonesia Rekomendasi dari Devina Heriyanto Perusahaan AI seperti Anthropic tak bisa menjadi otoritas tunggal dalam menentukan ancaman AI karena kepentingan geopolitik dan bisnisnya menuntut pengawasan independen. (Project M/Herra Frimawati) Pada September lalu, perusahaan teknologi Anthropic yang memproduksi platform kecerdasan buatan (AI) Claude merilis laporan berjudul Detecting and countering misuse of AI. Laporan ini...
Siapa yang Membunuh Bambang Setiawan? Polisi dan #DaruratKekerasanAparat Rekomendasi dari Project Multatuli Anggota Polri dalam gerombolan hitam-hitam pengeroyok Fatur dan Bambang. (Project M) Pada 27 Agustus malam, Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Jakarta Barat, berumur 60 tahun, dikeroyok dan diseret dan dibunuh oleh gerombolan berpakaian hitam-hitam. Bambang adalah penjual cermin dan bingkai di toko Istaka Jaya Frame di Pejompongan Raya, berjarak 50 meter dari gang rumahnya. Ia...
Maramba Eti: Menyembuhkan Luka Perbudakan di Sumba dari Dalam Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tugas bersama pemerintah daerah, gereja, LSM, dan masyarakat adalah mengenali keberadaan perempuan ata serta memastikan hak-hak dasar dan martabat mereka tidak lagi terabaikan. (Project M/Sekarjoget) Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik pada bulan Juli 2026 setelah terbitnya artikel dari kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP) tentang dugaan perbudakan,...