#RezimGagapDarurat: Warga Kalimantan Selatan Tercekik Asap, Mengais Air di Sungai yang MengeringRekomendasi dari Devina Heriyanto Asap kebakaran hutan masih melanda Kalimantan, bukan hanya di dalam batas negara Indonesia melainkan juga ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang kerap terjadi. Tapi bagi warga Kota Banjarbaru, Kalimatan Selatan, karhutla tahun ini adalah yang paling melelahkan. Zubaidah, yang tinggal di Kampung Pengayuan, harus ditarik anaknya keluar meninggalkan rumahnya ketika api merambat ke halaman belakang. Lalu Zubaidah hanya bisa berdiri, terdiam, menyaksikan isi rumahnya bertebaran di halaman. Hendra, koordinator relawan pemadaman, Pengayuan Rescue, mengatakan kebakaran sudah terlalu sering terjadi di wilayah tersebut sehingga pihaknya tidak lagi menghitung berapa kali relawan harus turun ke lapangan. Warga terpaksa mengungsi demi keselamatan dan kesehatan keluarga. Sigit Bayuadhi memilih membawa istri dan anaknya keluar dari kota. Anaknya memiliki gangguan kesehatan bawaan lahir yang membuatnya lebih rentan. “Saya harus selamatkan [anak] dari asap yang sudah tidak bersahabat,” kata Sigit. Donny Muslim, jurnalis foto dari Kalimantan Selatan, memotret kehidupan warga di tengah cekikan kabut asap lewat “Warga Kalimantan Selatan Tercekik Asap, Mengais Air di Sungai yang Mengering”.
Laporan ini adalah bagian dari serial #RezimGagapDarurat, yang membahas betapa lambat dan tidak mampunya pemerintah menangani bencana-bencana di tanah air, mulai dari banjir dan longsor besar Sumatra, gempa Flores, dan kebakaran hutan di Kalimantan. Penanganan pasca-bencana yang tidak mempertimbangkan kebutuhan dan melibatkan partisipasi warga juga membuat bantuan tidak tepat sasaran, berlawanan dari esensi pemulihan yang sesungguhnya. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
#RezimGagapDarurat: 9 bulan pasca-banjir di Aceh Tamiang & seminggu gempa Flores Rekomendasi dari Devina Heriyanto Dahniar (45) bersama suami dan anak perempuannya di tenda pengungsian. Hanya ada satu ruang tanpa sekat untuk tidur, beristirahat, dan menjalani seluruh aktivitas keluarga. Jarak lokasi tenda berkisar 30 meter dari Sungai Tamiang. (Project M/ Mafa Yulie Ramadhani) Sembilan bulan pasca-bencana banjir Sumatra, pembangunan dan proses pemulihan bagi korban berjalan sangat lambat. Di...
Menuju 81 tahun kemerdekaan, warga malah dapat #RezimGagapDarurat Rekomendasi dari Project Multatuli (Project M/Mafa Yulie Ramadhani) Pada pidato kenegaraan yang digelar hari ini, 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto memamerkan pencapaian-pencapaian pemerintahannya. Di Sumatra, puluhan ribu korban bencana banjir dan longsor besar yang menerjang pada November 2025 masih menunggu bantuan konkret. Di Tapanuli Tengah, daerah dengan korban jiwa dan jumlah pengungsi tertinggi di Sumatra,...
Dari Hutan yang Didengar: Perjalanan ‘Sound Guardians’ dari Kalimantan ke Layar Rekomendasi dari Ricky Yudhistira, manajer multimedia Project Multatuli Bagaimana suara alam yang sedang disakiti? Apakah kita mampu mendengarnya? Selama lebih dari satu tahun terakhir, Project Multatuli terlibat dalam pembuatan sebuah film dokumenter pendek tentang suara, kehilangan, dan ingatan. Dokumenter Sound Guardians (Penjaga Suara) merekam suara-suara alam yang terdampak pembangunan dari Pemaluan,...