Dari Hutan yang Didengar: Perjalanan ‘Sound Guardians’ dari Kalimantan ke Layar


Dari Hutan yang Didengar: Perjalanan ‘Sound Guardians’ dari Kalimantan ke Layar

Rekomendasi dari Ricky Yudhistira, manajer multimedia Project Multatuli

Bagaimana suara alam yang sedang disakiti? Apakah kita mampu mendengarnya?

Selama lebih dari satu tahun terakhir, Project Multatuli terlibat dalam pembuatan sebuah film dokumenter pendek tentang suara, kehilangan, dan ingatan.

Dokumenter Sound Guardians (Penjaga Suara) merekam suara-suara alam yang terdampak pembangunan dari Pemaluan, Kalimantan Timur, dan keresahan Abidin, seorang tetua masyarakat adat Balik, serta Wendy Erb, ilmuwan bioakustik dari Cornell Lab of Ornithology yang sudah meneliti di Kalimantan selama 10 tahun.

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan hanya merampas ruang hidup suku Balik, tapi juga relasi dan pengetahuan mereka soal alam yang selama ini diturunkan dari generasi ke generasi. Suara owa, rangkong, kuau raja, dan hewan-hewan lain yang dulu akrab menyapa masyarakat adat suku Balik kini berganti dengan suara ekskavator dan gergaji mesin.

Dengan menjadikan suara sebagai fokus film dokumenter ini, sutradara Leah Varjacques menjadikan Sound Guardians sebagai film yang bukan hanya memanjakan secara visual, tapi juga pengalaman sensori. Wendy, sebagai peneliti bioakustik, menganggap suara sebagai kapsul waktu. Dengan memasang perekam di puncak gunung, hutan, mangrove, dan sekitar gua selama 18 bulan, para peneliti dapat membandingkan bagaimana kehadiran satwa berubah seiring pembangunan IKN.

Film Sound Guardians dipersiapkan untuk tayang di 15 festival film di 7 negara yang tersebar di 3 benua. Publikasi film ini bekerjasama dengan Project Multatuli, Mongabay, dan Scientific American.

Project Multatuli sudah banyak menerbitkan tulisan soal dampak pembangunan IKN dan proyek-proyek strategis nasional dalam serial jurnalistik #ProyekSengsaraNasional. Meminjam satire yang disematkan publik atas proyek strategis nasional (PSN), serial ini menyoroti berbagai penyimpangan dan konflik tenurial, marjinalisasi, pengerahan aparat keamanan, dan sentralisasi kebijakan. Sejak ditetapkan Presiden Jokowi pada 2016, lebih dari 200-an PSN di seluruh Indonesia telah membuat kehancuran metabolik alam-manusia dan degradasi ruang hidup gila-gilaan.

Dukung kami untuk terus menyajikan serial liputan yang melayani masyarakat terpinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan.

Project Multatuli

Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.

Read more from Project Multatuli

Siapa yang Membunuh Bambang Setiawan? Polisi dan #DaruratKekerasanAparat Rekomendasi dari Project Multatuli Anggota Polri dalam gerombolan hitam-hitam pengeroyok Fatur dan Bambang. (Project M) Pada 27 Agustus malam, Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Jakarta Barat, berumur 60 tahun, dikeroyok dan diseret dan dibunuh oleh gerombolan berpakaian hitam-hitam. Bambang adalah penjual cermin dan bingkai di toko Istaka Jaya Frame di Pejompongan Raya, berjarak 50 meter dari gang rumahnya. Ia...

Maramba Eti: Menyembuhkan Luka Perbudakan di Sumba dari Dalam Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tugas bersama pemerintah daerah, gereja, LSM, dan masyarakat adalah mengenali keberadaan perempuan ata serta memastikan hak-hak dasar dan martabat mereka tidak lagi terabaikan. (Project M/Sekarjoget) Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik pada bulan Juli 2026 setelah terbitnya artikel dari kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP) tentang dugaan perbudakan,...

Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan Rekomendasi dari Devina Heriyanto Sejarah menunjukkan bagaimana bencana yang diikuti pengabaian dan ketidakadilan dapat menumpuk menjadi kemarahan politik. (Project M/Marco Anthony) Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 4 September pukul 23.07 WIB menambah panjang deretan kegagalan pemerintah menanggulangi bencana alam di Indonesia. Efisiensi yang dilakukan pemerintah untuk membiayai program flagship...