Dead Press Society: Hari-Hari Wartawan di Bawah Tekanan 'Departemen Penerangan' Prabowo


Dead Press Society: Hari-Hari Wartawan di Bawah Tekanan 'Departemen Penerangan' Prabowo

Rekomendasi dari Project Multatuli

Angga Raka Prabowo mungkin bukan sosok yang kerap tampil depan umum, tapi namanya akrab di kalangan awak media sebagai ketua Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) sebelum digantikan oleh Muhammad Qodari pada April 2026.

Bakom bertugas "melaksanakan orkestrasi komunikasi dan informasi kebijakan dan program strategis pemerintah". Di bawah pimpinan Angga, Bakom juga memantau pemberitaan di media dan merepresi media yang dianggap terlalu banyak megkritik kerja-kerja pemerintahan Prabowo.

Redaktur Project Multatuli, Viriya Singgih, mewawancarai 17 wartawan dari 10 media berbeda dan tiga narasumber dari lingkar pemerintah untuk mengetahui bagaimana Angga bergerilya menekan pers di balik layar. Semua hanya mau bicara dengan kondisi anonim.

Angga, lewat Bakom, menghalangi akses wartawan ke kegiatan pemerintah, menegur langsung redaksi dan bahkan pemilik media, mengancam menyomasi wartawan, dan bahkan menekan dengan iklan.

Biarpun kepemimpinan Bakom sudah berganti, tidak ada tanda bahwa kebebasan pers di bawah rezim Prabowo membaik. Munculnya pernyataan yang memuat disinformasi dan konspirasi dari sosok yang ada di Bakom sekarang –Qodari dan stafnya Ulta Levenia– menunjukkan bahwa pers Indonesia masih belum bebas dari bayang-bayang Departemen Penerangan ala Orde Baru.

Artikel ini adalah bagian dari serial #DeadPressSociety yang mengungkap berbagai bentuk pembungkaman pers yang terjadi di bawah pemerintahan Prabowo Subianto. Mewawancarai lebih dari 70 pekerja dan eks pekerja media dari 37 organisasi pers sejak Desember 2025, reporter-cum-editor Project Multatuli, Viriya Singgih mengajak kita mengarungi bermacam bentuk ancaman fisik, politik dan bisnis ke jantung media-media di Indonesia oleh orang-orang Prabowo.

​Dukung kami untuk terus menyajikan serial liputan yang melayani masyarakat terpinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan.
​

Project Multatuli

Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.

Read more from Project Multatuli

AI, Pemilu, dan Kuasa Korporasi: Membaca Laporan Anthropic dari Indonesia Rekomendasi dari Devina Heriyanto Perusahaan AI seperti Anthropic tak bisa menjadi otoritas tunggal dalam menentukan ancaman AI karena kepentingan geopolitik dan bisnisnya menuntut pengawasan independen. (Project M/Herra Frimawati) Pada September lalu, perusahaan teknologi Anthropic yang memproduksi platform kecerdasan buatan (AI) Claude merilis laporan berjudul Detecting and countering misuse of AI. Laporan ini...

Siapa yang Membunuh Bambang Setiawan? Polisi dan #DaruratKekerasanAparat Rekomendasi dari Project Multatuli Anggota Polri dalam gerombolan hitam-hitam pengeroyok Fatur dan Bambang. (Project M) Pada 27 Agustus malam, Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Jakarta Barat, berumur 60 tahun, dikeroyok dan diseret dan dibunuh oleh gerombolan berpakaian hitam-hitam. Bambang adalah penjual cermin dan bingkai di toko Istaka Jaya Frame di Pejompongan Raya, berjarak 50 meter dari gang rumahnya. Ia...

Maramba Eti: Menyembuhkan Luka Perbudakan di Sumba dari Dalam Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tugas bersama pemerintah daerah, gereja, LSM, dan masyarakat adalah mengenali keberadaan perempuan ata serta memastikan hak-hak dasar dan martabat mereka tidak lagi terabaikan. (Project M/Sekarjoget) Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik pada bulan Juli 2026 setelah terbitnya artikel dari kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP) tentang dugaan perbudakan,...