#RezimGagapDarurat: 9 bulan pasca-banjir di Aceh Tamiang & seminggu gempa FloresRekomendasi dari Devina Heriyanto Sembilan bulan pasca-bencana banjir Sumatra, pembangunan dan proses pemulihan bagi korban berjalan sangat lambat. Di beberapa desa di Aceh Tamiang, pembangunan huntara sudah dimulai. Namun, pembangunan minim partisipatif warga sehingga hak-hak dasar penyintas belum sepenuhnya terpenuhi. Mafa Yulie Ramadhani merekam kehidupan pengungsi di Aceh Tamiang, baik yang sudah direlokasi ke hunian sementara (huntara) maupun yang masih tinggal di tenda. Dari wawancaranya dengan pengungsi, Mafa menemukan bahwa proses pemulihan masih terbatas dan belum melibatkan partisipasi warga, apalagi memperhitungkan kebutuhan perempuan dan kelompok rentan. Salah satu huntara, misalkan, masih kekurangan toilet. Satu unit toilet berukuran 1,5×2 meter disediakan untuk setiap 4 keluarga. Di ruangan sempit itu, mereka mandi, mencuci pakaian, membersihkan anak-anak, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi perempuan, situasi ini menyulitkan ketika membutuhkan ruang privasi untuk menjaga kebersihan tubuh saat menstruasi, memandikan bayi, atau sekadar merawat diri. Ada pula pengungsi yang tidak bisa tinggal di huntara karena masalah kesehatan mental. Huntara yang disediakan pemerintah dibangun seperti permukiman komunal. Rumah-rumah berdiri berdekatan dengan jarak yang sempit. “Bukan tidak mau pindah. Saya tidak sanggup tinggal ramai-ramai,” kata Dahniar, yang selama ini menjadi pendamping suaminya yang punya gangguan psikososial. Esai foto berjudul “Penyintas Banjir Aceh Tamiang Menghuni Atap Panas, Menjaga Harta yang Tersisa” oleh Mafa menguak berbagai keterbatasan dan respon lambat pemerintah dalam pemulihan bencana Sumatra.
Pekan lalu, gempa M7.7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa masih ada 4.258 gempa susulan yang terjadi hingga Jumat, 21 Agustus, pagi. Media independen berbasis di Manggarai, Floresa.co, rekan sejawat kami, melaporkan bahwa masih banyak desa-desa yang belum mendapat bantuan pemerintah. Tim Floresa sendiri berusaha menyalurkan bantuan dibantu relawan dan jejaringnya sejak hari pertama gempa. Per hari ini, tim Floresa sudah menjangkau 97 titik di enam kabupaten di Flores dan menyalurkan donasi Rp592.400.000. Pembaca Project Multatuli yang ingin membantu korban gempa Flores bisa menyalurkan bantuan langsung ke rekening BRI atas nama PT Floresa Media Utama dengan nomor 1763-01-000024-56-6. Mohon mencantumkan pesan “Bantuan Gempa Flores” pada bagian berita transfer. Tim Floresa masih melaporkan kondisi warga pasca-gempa lewat akun Instagram @floresadotco. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
Siapa yang Membunuh Bambang Setiawan? Polisi dan #DaruratKekerasanAparat Rekomendasi dari Project Multatuli Anggota Polri dalam gerombolan hitam-hitam pengeroyok Fatur dan Bambang. (Project M) Pada 27 Agustus malam, Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Jakarta Barat, berumur 60 tahun, dikeroyok dan diseret dan dibunuh oleh gerombolan berpakaian hitam-hitam. Bambang adalah penjual cermin dan bingkai di toko Istaka Jaya Frame di Pejompongan Raya, berjarak 50 meter dari gang rumahnya. Ia...
Maramba Eti: Menyembuhkan Luka Perbudakan di Sumba dari Dalam Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tugas bersama pemerintah daerah, gereja, LSM, dan masyarakat adalah mengenali keberadaan perempuan ata serta memastikan hak-hak dasar dan martabat mereka tidak lagi terabaikan. (Project M/Sekarjoget) Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik pada bulan Juli 2026 setelah terbitnya artikel dari kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP) tentang dugaan perbudakan,...
Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan Rekomendasi dari Devina Heriyanto Sejarah menunjukkan bagaimana bencana yang diikuti pengabaian dan ketidakadilan dapat menumpuk menjadi kemarahan politik. (Project M/Marco Anthony) Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 4 September pukul 23.07 WIB menambah panjang deretan kegagalan pemerintah menanggulangi bencana alam di Indonesia. Efisiensi yang dilakukan pemerintah untuk membiayai program flagship...