Menuju 81 tahun kemerdekaan, warga malah dapat #RezimGagapDaruratRekomendasi dari Project Multatuli Pada pidato kenegaraan yang digelar hari ini, 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto memamerkan pencapaian-pencapaian pemerintahannya. Di Sumatra, puluhan ribu korban bencana banjir dan longsor besar yang menerjang pada November 2025 masih menunggu bantuan konkret. Di Tapanuli Tengah, daerah dengan korban jiwa dan jumlah pengungsi tertinggi di Sumatra, bantuan berupa uang jaminan hidup dan hunian sementara (huntara) tidak tersedia untuk banyak pengungsi. Banyak keluarga terpaksa mendirikan “huntara mandiri” dari papan dan tripleks di atas tanah yang dipinjamkan warga lain, bermodal donasi warga pula. Kontributor Project Multatuli, Tonggo Simangunsong, melaporkan kondisi warga penyintas banjir di Tapanuli Tengah dalam liputannya yang berjudul “Bencana dan yang Tak Becus Setelahnya: Korban Banjir Tapanuli Tengah Berjibaku dalam Labirin Bantuan Pemerintah”. Laporan ini adalah bagian dari serial liputan #RezimGagapDarurat. Serial ini menelusuri kegagalan negara melindungi dan memulihkan kehidupan warga Sumatra. Dari bantuan yang tersendat hingga rekonstruksi yang kalah cepat dengan proyek-proyek ambisius pemerintah, serial ini menunjukkan bagaimana penyintas dibiarkan berjibaku sendiri menyambung hidupnya jauh setelah bencana berlalu. Dalam Ide dan Esai berjudul “Sumatra Merana dalam Pusaran Bencana dan Janji Palsu Jakarta”, Ravio Patra, seorang Kawan M, menyoroti prioritas pemerintah yang lebih mengedepankan program-program populis seperti KDMP ketimbang pemulihan Sumatra. Ravio, yang berasal dari Sumatra Barat, juga menceritakan bagaimana di daerah asalnya, hujan deras kembali menyebabkan banjir dan longsor. Menurutnya, apa yang terjadi di Sumatra sama dengan berbagai daerah lainnya di mana warga dipinggirkan demi ambisi pemerintah. Seorang penyintas di Tapanuli Tengah berkelakar pahit, “Mungkin kami bukan warga Indonesia, makanya kami dibedakan.”
Delapan bulan pasca-bencana, Project Multatuli masih mengawal upaya pemulihan Sumatra. Kami bekerja dengan jurnalis dan media independen lokal dalam serial #RezimGagapDarurat. Untuk terus melakukan liputan secara independen dan mendalam, jurnalisme publik butuh dukunganmu dengan menjadi Kawan M. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
Siapa yang Membunuh Bambang Setiawan? Polisi dan #DaruratKekerasanAparat Rekomendasi dari Project Multatuli Anggota Polri dalam gerombolan hitam-hitam pengeroyok Fatur dan Bambang. (Project M) Pada 27 Agustus malam, Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Jakarta Barat, berumur 60 tahun, dikeroyok dan diseret dan dibunuh oleh gerombolan berpakaian hitam-hitam. Bambang adalah penjual cermin dan bingkai di toko Istaka Jaya Frame di Pejompongan Raya, berjarak 50 meter dari gang rumahnya. Ia...
Maramba Eti: Menyembuhkan Luka Perbudakan di Sumba dari Dalam Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tugas bersama pemerintah daerah, gereja, LSM, dan masyarakat adalah mengenali keberadaan perempuan ata serta memastikan hak-hak dasar dan martabat mereka tidak lagi terabaikan. (Project M/Sekarjoget) Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik pada bulan Juli 2026 setelah terbitnya artikel dari kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP) tentang dugaan perbudakan,...
Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan Rekomendasi dari Devina Heriyanto Sejarah menunjukkan bagaimana bencana yang diikuti pengabaian dan ketidakadilan dapat menumpuk menjadi kemarahan politik. (Project M/Marco Anthony) Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 4 September pukul 23.07 WIB menambah panjang deretan kegagalan pemerintah menanggulangi bencana alam di Indonesia. Efisiensi yang dilakukan pemerintah untuk membiayai program flagship...