Ketika Debu Merah Mengepung Desa Hakatutobu


Ketika Debu Merah Mengepung Desa Hakatutobu

Rekomendasi dari Devina Heriyanto

“Desa Hakatutobu terletak di pesisir pantai dengan pemandangan laut yang indah dan dikelilingi oleh kawasan tambang yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah.”

Begitu yang tertulis dalam situs resmi Desa Hakatutobu, Kec. Pomalaa, Kab. Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kalimat yang akan terdengar kontradiktif setelah kamu membaca reportase ini.

Jurnalis Project Multatuli, Alfian Putra Abdi, menulis dampak pencemaran lingkungan dari industri nikel di Desa Hakatutobu. Alih-alih pemandangan laut yang indah, yang terlihat adalah lumpur sedimen debu berwarna merah yang masuk dari area pertambangan ke aliran sungai sebelum akhirnya mengubur area pesisir. Bukan cuma merusak keindahan laut, debu dari pertambangan nikel ini juga membuat warga sulit mencari ikan, mengganggu pencaharian mereka, menimbulkan berbagai masalah kesehatan, bahkan berujung pada kematian seorang anak.

Kecamatan Pomalaa, yang menaungi Desa Hakatutobu, dikepung izin usaha pertambangan nikel. Di Pomalaa juga akan segera berdiri Kawasan Industri Pomalaa atau Indonesia Pomala Industry Park (IPIP) seluas 11.808 ha. Proyek ini termasuk Proyek Strategis Nasional. Kawasan industri ini diklaim sebagai proyek hijau. Akan tetapi, menurut laporan-laporan Project Multatuli, PSN memicu perampasan lahan dan konflik agraria, kerusakan lingkungan serta melegalkan kekerasan. Baca laporan lengkap kami soal PSN di laman #ProyekSengsaraNasional ini.

Catatan Refleksi dan Manifesto Pesta Pinggiran

Pada akhir bulan Januari, Project Multatuli menggelar Pesta Pinggiran, festival biennale komunitas/gerakan bagi gerakan sosial untuk berbagi cerita, karya, dan ide. Festival ini mengangkat suara dan aksi dari pinggiran ke tengah kota, merayakan dampak kecil maupun besar yang telah tercipta.

Kami menerbitkan dua Ide dan Esai sehubungan dengan Pesta Pinggiran.

Kematian Ruang Ekspresi

Oleh Viriya Singgih | Dibacakan pada 24 Januari 2026

Tulisan ini merupakan catatan refleksi kebebasan berekspresi selama masa kepresidenan Prabowo Subianto oleh editor Project Multatuli, Viriya Singgih. Refleksi ini dimulai dari apa yang terjadi pada bulan Agustus: kematian Affan Kurniawan, demo besar yang terjadi setelahnya, dan watak asli pemerintahan Prabowo yang muncul di situasi penuh tekanan tersebut.

Viriya mengenang bahwa kuliah S1 dahulu, dosen-dosennya kerap bercerita soal peliknya meliput di era Orde Baru. Tidak disangka, cerita-cerita soal masa lalu ini kembali jadi realita yang harus dihadapi jurnalis dan aktivis di masa kini. [Baca selengkapnya]

Manifesto Warga Pinggiran: Melamun Sampai Semua Makhluk Hidup Bahagia

Oleh Anotasi, Pamflet Generasi, Project Multatuli, dan We Speak Up | Dibacakan pada 26 Januari 2026

Manifesto ini disusun bersama-sama dari hasil menghimpun pesan-pesan dari narasumber di setiap Bincang Pinggiran serta suara pengunjung dari Surat untuk Masa Depan selama dua hari Pesta Pinggiran.

Kami memutuskan membuat manifesto yang nadanya berbeda dari bayangan manifesto pada umumnya. Ia tidak mengepalkan tinju, tak pula berteriak lantang, melainkan mengajak untuk melamun bersama. Ia membuka ruang imajinasi yang justru terasa mahal di tengah sistem kapitalistik yang serba menghimpit dan menuntut kecepatan. Dalam kelembutannya, manifesto ini berusaha merawat: memberi jeda, mengundang napas, sekaligus mengingatkan bahwa membayangkan dunia yang lebih adil juga merupakan kerja politik yang penting. [Baca selengkapnya]

Project Multatuli

Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.

Read more from Project Multatuli

Semakin Ditekan, Semakin Melawan: Gen Z Diberangus Rezim Prabowo Rekomendasi dari Devina Heriyanto Ilustrasi perburuan dan pembungkaman massal setelah demonstrasi Agustus-September 2025. (Project M/Erriz Dwi) Perburuan dan pembungkaman massal pasca-demonstrasi Agustus-September 2025 membuat 703 orang menjadi tahanan politik di seluruh Indonesia. Permata Adinda menulis analisis profil tahanan politik berdasarkan data yang diterbitkan Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi (GMLK) per 14 Februari...

Masalah Perburuhan di Indonesia: Standard Kesehatan Diskriminatif, Pekerjaan Rentan Masalah, Risiko Tanggung Sendiri Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tiga reportase terbaru dari Project Multatuli membahas soal peliknya isu perburuhan di Indonesia. Bukan hanya kesulitan mencari pekerjaan yang layak seperti yang dialami oleh anak muda #GenerasiCemas, permasalahannya juga mencakup standard kesehatan yang menutup akses bagi banyak orang, tidak adanya perlindungan dari beban kerja yang...

Bacaan Akhir Pekan: Jurnalisme Murah, Hidup dan Demokrasi yang Mahal Rekomendasi dari Devina Heriyanto Dua dunia kerja dijalani bersamaan oleh Deasy, jurnalis di Jawa Timur, karena profesi utama sebagai jurnalis tidak bisa membiayai hidupnya. (Project M/Muni Moon) Siapa yang masih mau jadi jurnalis? Apa untungnya? Tahun lalu, dalam sebuah acara jurnalisme, saya dan beberapa anggota tim Project Multatuli mengobrol dengan dosen-dosen dari berbagai universitas. Salah satu topik yang dibahas...