Maramba Eti: Menyembuhkan Luka Perbudakan di Sumba dari DalamRekomendasi dari Devina Heriyanto Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik pada bulan Juli 2026 setelah terbitnya artikel dari kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP) tentang dugaan perbudakan, eksploitasi, dan kekerasan. Martha Hebi, penulis dan pegiat sosial yang tekun meneliti subjek perempuan dalam tradisi dan interseksionalitasnya dari Sumba, menuliskan refleksinya terhadap isu perbudakan di Sumba dan menjabarkan bagaimana dinamika antara maramba dan ata berbeda dengan relasi antara pemilik dan budak dalam konsep perbudakan transatlantik. Martha menekankan bahwa dinamika maramba dan ata tidak terlepas dari konsep kinship atau kekerabatan. Tapi, ia juga tidak menafikan soal bagaimana perwujudan relasi ini berubah dengan masuknya kolonialisme dan feodalisme. “Tragedi kemanusiaan baru memuncak ketika kolonialisme dan feodalisme menunggangi serta merusak tatanan kinship tersebut dari dalam. Kolonialisme menggeser relasi kekerabatan yang semula berbasis gotong-royong menjadi relasi kuasa yang transaksional, eksploitatif, dan dehumanis,” tulis Martha. Lebih jauh lagi, Martha mendorong metodologi “Maramba Eti” atau hati yang bermartabat dalam memahami dan memantau kisah-kisah dari ata, khususnya yang perempuan, sebagai langkah mengakui penderitaan dan ketidakadilan yang mereka alami, sebelum bisa menyembuhkan luka dari dalam.
Tulisan Ide dan Esai ini adalah bagian dari serial #MasyarakatAdat. Serial #MasyarakatAdat adalah bukti dari misi kami untuk melayani yang terpinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Kami mengangkat cerita-cerita dari daerah terpencil di Indonesia, dari orang-orang yang ditinggalkan dan cara hidupnya dikorbankan demi pembangunan. Dalam serial ini, kami juga berfokus pada cerita perempuan adat yang memimpin perjuangan untuk mendapatkan keadilan. Ayo ikut pelatihan Setara Bercerita 2026: "Iklim di Pundak Perempuan"! Project Multatuli memanggil perempuan fotografer untuk bergabung dalam Setara Bercerita, program tutur visual inklusif berbasis hibah liputan yang mendokumentasikan persoalan perempuan melalui foto jurnalistik. Ketentuan peserta:
Peserta akan memperoleh:
Pendaftaran ditutup pada Rabu, 30 September 2026. Daftar melalui tautan berikut ini: https://bit.ly/SetaraBercerita2 |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan Rekomendasi dari Devina Heriyanto Sejarah menunjukkan bagaimana bencana yang diikuti pengabaian dan ketidakadilan dapat menumpuk menjadi kemarahan politik. (Project M/Marco Anthony) Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 4 September pukul 23.07 WIB menambah panjang deretan kegagalan pemerintah menanggulangi bencana alam di Indonesia. Efisiensi yang dilakukan pemerintah untuk membiayai program flagship...
#RezimGagapDarurat: Warga Kalimantan Selatan Tercekik Asap, Mengais Air di Sungai yang Mengering Rekomendasi dari Devina Heriyanto Seorang pengendara menutup hidung saat melintasi kabut asap akibat karhutla di kawasan Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Jumat pagi, 28 Agustus 2026. (Project M/Riyad Dafhi Rizki). Asap kebakaran hutan masih melanda Kalimantan, bukan hanya di dalam batas negara Indonesia melainkan juga ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Kebakaran hutan dan lahan...
#RezimGagapDarurat: 9 bulan pasca-banjir di Aceh Tamiang & seminggu gempa Flores Rekomendasi dari Devina Heriyanto Dahniar (45) bersama suami dan anak perempuannya di tenda pengungsian. Hanya ada satu ruang tanpa sekat untuk tidur, beristirahat, dan menjalani seluruh aktivitas keluarga. Jarak lokasi tenda berkisar 30 meter dari Sungai Tamiang. (Project M/ Mafa Yulie Ramadhani) Sembilan bulan pasca-bencana banjir Sumatra, pembangunan dan proses pemulihan bagi korban berjalan sangat lambat. Di...