Siapa yang Membunuh Bambang Setiawan? Polisi dan #DaruratKekerasanAparatRekomendasi dari Project Multatuli Pada 27 Agustus malam, Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Jakarta Barat, berumur 60 tahun, dikeroyok dan diseret dan dibunuh oleh gerombolan berpakaian hitam-hitam. Bambang adalah penjual cermin dan bingkai di toko Istaka Jaya Frame di Pejompongan Raya, berjarak 50 meter dari gang rumahnya. Ia meninggalkan seorang istri, dua anak, dan seorang cucu. Malam itu, Bambang hanya ingin mematikan lampu toko yang masih menyala. Ia tidak kembali sampai larut malam. Lewat pukul 3 pagi, barulah anaknya mengenali sosoknya dalam sebuah video yang menggambarkan seorang pria baju berwarna hitam diseret, ditendang, dipukuli dengan balok kayu hingga kepalanya tampak berlumur darah. Dalam video lainnya, tampak korban diseret dengan kondisi sudah tidak bergerak. Gerombolan orang tak dikenal yang menyeretnya itu berseru, “Bawa! Bawa! Bawa!” Selepas peristiwa pembunuhan Bambang, Polda Metro Jaya menetapkan tiga tersangka berinisial DS, 33 tahun; DDS, 29 tahun; dan FP, 23 tahun. Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menyebut ketiga tersangka itu pekerja harian lepas. Polda Metro Jaya tidak menampilkan ketiga wajah tersangka dalam konferensi pers pada 12 September 2026. Ketiganya memakai masker penutup wajah atau balaclava. Investigasi hasil kolaborasi antara Project Multatuli, BBC News Indonesia, dan Suara.com menelusuri setidaknya 12 pelaku pengeroyokan diduga adalah aparat kepolisian Indonesia. Di antara mereka membawa tanda pengenal dan borgol plastik merah. Salah satunya teridentifikasi diduga anggota Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Ini bukan kali pertama polisi melakukan kekerasan dalam mengawal demonstrasi di Indonesia. Pada demo Agustus 2025 misalnya, represi gila-gilaan merebak. Pengemudi ojek online Affan Kurniawan di Jakarta tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob. Direktur Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia (UII) Eko Riyadi berargumen bahwa kultur kekerasan ini mendarah sejak pendidikan polisi yang masih bercorak militer ketimbang sipil, meskipun institusi kepolisian sudah terpisah dari tentara sejak Reformasi. “Jadi, saya sangat khawatir kekerasan yang mereka lakukan itu terlembaga dan terjustifikasi secara etis, moral, maupun hukum.”
Project Multatuli banyak memberitakan soal #DaruratKekerasanAparat. Kultur kekerasan dan impunitas di tubuh Polri telah menjadikan lembaga penegak hukum ini 'superbody', sangat berkuasa dan menjadi alat gebuk penguasa, sehingga nyaris sia-sia mengawasinya secara eksternal maupun internal. Berbagai kasus kematian di tangan polisi serta aksi protes publik digebuki polisi menunjukkan juga betapa darurat demokrasi kita. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
Maramba Eti: Menyembuhkan Luka Perbudakan di Sumba dari Dalam Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tugas bersama pemerintah daerah, gereja, LSM, dan masyarakat adalah mengenali keberadaan perempuan ata serta memastikan hak-hak dasar dan martabat mereka tidak lagi terabaikan. (Project M/Sekarjoget) Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik pada bulan Juli 2026 setelah terbitnya artikel dari kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP) tentang dugaan perbudakan,...
Dari Anak Krakatau ke Geger Cilegon: Bencana, Pengabaian, dan Pemberontakan Rekomendasi dari Devina Heriyanto Sejarah menunjukkan bagaimana bencana yang diikuti pengabaian dan ketidakadilan dapat menumpuk menjadi kemarahan politik. (Project M/Marco Anthony) Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 4 September pukul 23.07 WIB menambah panjang deretan kegagalan pemerintah menanggulangi bencana alam di Indonesia. Efisiensi yang dilakukan pemerintah untuk membiayai program flagship...
#RezimGagapDarurat: Warga Kalimantan Selatan Tercekik Asap, Mengais Air di Sungai yang Mengering Rekomendasi dari Devina Heriyanto Seorang pengendara menutup hidung saat melintasi kabut asap akibat karhutla di kawasan Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Jumat pagi, 28 Agustus 2026. (Project M/Riyad Dafhi Rizki). Asap kebakaran hutan masih melanda Kalimantan, bukan hanya di dalam batas negara Indonesia melainkan juga ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Kebakaran hutan dan lahan...