Masalah Perburuhan di Indonesia: Standard Kesehatan Diskriminatif, Pekerjaan Rentan Masalah, Risiko Tanggung Sendiri


Masalah Perburuhan di Indonesia: Standard Kesehatan Diskriminatif, Pekerjaan Rentan Masalah, Risiko Tanggung Sendiri

Rekomendasi dari Devina Heriyanto

Tiga reportase terbaru dari Project Multatuli membahas soal peliknya isu perburuhan di Indonesia. Bukan hanya kesulitan mencari pekerjaan yang layak seperti yang dialami oleh anak muda #GenerasiCemas, permasalahannya juga mencakup standard kesehatan yang menutup akses bagi banyak orang, tidak adanya perlindungan dari beban kerja yang berlebihan, serta dalam kasus anak buah kapal (ABK) yang baru-baru ini viral, terjebak jadi "tumbal" kasus narkotika.

Label Unfit to Work: Kandasnya Mimpi Calon Buruh Migran dengan HIV dan Bipolar

Oleh Venda Pratama | Terbit 6 Maret 2026

Pekerja kapal pesiar yang terinfeksi HIV dinyatakan unfit to work atau tidak kayak bekerja. Padahal, perusahaan pemilik kapal-kapal pesiar berbendera Australia, Uni Eropa, Amerika Serikat, bahkan yang berbendera negara kecil seperti Bahamas tidak melarang orang dengan HIV untuk bekerja. Meski sudah mengelola infeksi HIV dengan terapi obat hingga tidak menular lagi, seorang pekerja malah mendapat tanggapan sinis dari dokter dan gagal lulus tes kesehatan, sehingga kehilangan harapan.

Masalah yang sama juga dihadapi dengan orang dengan gangguan kesehatan mental. Made Diah Negara, peneliti PPH Atma Jaya yang fokus pada isu kesehatan mental, berkata bahwa pelarangan untuk bekerja justru memperburuk kondisi memicu isolasi dan membuat penyintas kehilangan arah hidup. “Dan justru memicu kekambuhan,” ujarnya. Oleh sebab itu, “Aturan ini perlu direformasi,” katanya. [Baca selengkapnya]

‘Hukum Indonesia Tidak Adil’: ABK Dituntut Pidana Mati

Oleh Yogi Eka Sahputra | Terbit 4 Maret 2026

Fandi Ramadhan, seorang anak buah kapal berumur 26 tahun, dituntut hukuman mati. Ia didakwa terlibat dalam penyelundupan sabu seberat hampir 2 ton. Kasus ini jadi sorotan bagaimana seorang pekerja di posisi terbawah dijadikan tumbal dari rantai sindikat narkotika transnasional.

Pada sidang pembacaan putusan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (5 Maret), Fandi mendapatkan vonis 5 tahun penjara.

Bagi Ibu Fandi, Nirwana, putusan itu belum menghadirkan keadilan. “Belum ada keadilan untuk anak saya. Saya berharap Fandi bebas,” katanya sambil menangis setelah sidang. [Baca selengkapnya]

Sopir Trailer Tanjung Priok: Menanggung Logistik Nasional, Celaka Urusan Personal

Oleh Rokky Rivandy | Terbit 24 Februari 2026

Sopir trailer sering mendapat stereotipe buruk di jalan karena muatan berlebih dan gaya mengemudi yang ugal-ugalan. Padahal, di balik itu, ada tekanan kerja dan sistem logistik nasional yang mengesampingkan keselamatan pribadi pekerjanya, belum lagi upah murah dan ketidakpastian.

Tidak memiliki jaminan sosial baik BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Tidak ada asuransi Jasa Raharja ataupun asuransi swasta lainnya. Padahal sopir trailer menghabiskan waktu setiap hari di jalanan Indonesia yang menurut data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bisa menewaskan tiga orang setiap jamnya. Ketika ada kecelakaan kerja, sopir trailer seringkali harus menanggung biaya perbaikan atau pengganti sendiri.

Seperti pengemudi kurir dan ojek online, sopir trailer juga merupakan korban dari skema kemitraan. [Baca selengkapnya]


Project Multatuli

Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.

Read more from Project Multatuli

Bacaan Akhir Pekan: Bernapas menghirup plastik dan upaya menjinakkan 'anjing penjaga' Rekomendasi dari Devina Heriyanto Pekan ini Project Multatuli menerbitkan dua tulisan dari redaktur kami, Ronna Nirmala dan Viriya Singgih. Tubuh manusia menjadi tempat pembuangan akhir bagi mikroplastik. (Project M/Jelita Rembulan) Bernapas Menghirup Plastik: Ketika Warga Kota Tak Punya Pilihan Selain Ikut Menelan Polusi Oleh Ronna Nirmala | Kolaborator Earth Journalism Network (EJN) Para peneliti di dunia...

#DeadPressSociety: Masihkah ada kebebasan pers di Indonesia? Sebagai gambaran represi pers hari-hari ini, yang dituturkan narasumber kami: ada pejabat pemerintah yang rutin mengontak petinggi redaksi atau bos perusahaan media untuk protes soal pemberitaan, minta berita diturunkan, bahkan mengancam kelangsungan bisnis perusahaan. (Project M/Aan K. Riyadi) Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia sekaligus lima tahun berdirinya Project Multatuli, kami ingin mengabarkan soal...

Selamat Hari Buruh untuk Semua Pejuang Rupiah Rekomendasi dari Devina Heriyanto Kelas Pekerja Ibu Kota Pergi Gelap Pulang Gelap, Menghadapi Pelecehan di Perjalanan demi Uang Lemburan Cerita Foto oleh Edy Susanto | Pertama terbit 14 April 2023 Fotografer Edy Susanto merekam perjalanan Zahra Nabila Zulkifli (21), seorang pelaju dan pengguna KRL dari Bogor yang berangkat subuh untuk bisa sampai ke tempat kerjanya di Jakarta. Sebagai kelas pekerja yang mesti membiayai keluarganya juga, Zahra...