Semakin Ditekan, Semakin Melawan: Gen Z Diberangus Rezim Prabowo


Semakin Ditekan, Semakin Melawan: Gen Z Diberangus Rezim Prabowo

Rekomendasi dari Devina Heriyanto

Perburuan dan pembungkaman massal pasca-demonstrasi Agustus-September 2025 membuat 703 orang menjadi tahanan politik di seluruh Indonesia.

Permata Adinda menulis analisis profil tahanan politik berdasarkan data yang diterbitkan Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi (GMLK) per 14 Februari 2026, yang kemudian diverifikasi dan dilengkapi menggunakan sumber lain.

Salah satu yang mencolok adalah sebagian besar tapol 88,45% adalah anak muda Generasi Z kelahiran 1997-2012. Bukan hanya muda, mereka juga kesulitan mendapatkan hidup layak sebagai "pekerja informal" atau bahkan "bukan angkatan kerja".

Kerentanan ini membuat mereka tergerak ke jalan, terpicu setelah meninggalnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol muda yang dilindas kendaraan polisi.

Para tapol ini memiliki “radical hope”, atau mempertahankan harapan di tengah situasi seperti tanpa harapan.

Otoritas melihat status prekariat massa aksi dengan menindas mereka, mendiskriminasi mereka (dipersulit akses pendampingan hukum, dianiaya dan sebagainya).

Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menyebutnya “malicious prosecution” atau penuntutan dengan niat jahat.

Malicious prosecution adalah penuntutan yang tujuannya bukan untuk mencari keadilan, tapi memang bertujuan jahat untuk menakut-nakuti atau mengintimidasi.”

Tapi, dengan situasi ekonomi semakin terpuruk, para akademisi memprediksi kemarahan publik justru menjadi bom waktu.

“Jika diandaikan sebagai api, kemarahan selama Agustus hanya ditutup dengan pasir. Kenyataannya, api itu masih panas. Seperti api dalam sekam,” sebut Amalinda Savirani.

Project Multatuli terus menyoroti perburuan anak muda pascademo Agustus 2025. Juga terus merekam represi terhadap kebebasan politik dan kebebasan pers, selain tetap mendokumentasikan perlawanan di sudut-sudut Indonesia.

Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 menyoroti tingginya jumlah sensor dan swasensor di kalangan media dan jurnalis di Indonesia. Dukung jurnalisme publik untuk mengawasi kekuasaan yang makin ugal-ugalan.

Project Multatuli

Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.

Read more from Project Multatuli

Bacaan Akhir Pekan: Bernapas menghirup plastik dan upaya menjinakkan 'anjing penjaga' Rekomendasi dari Devina Heriyanto Pekan ini Project Multatuli menerbitkan dua tulisan dari redaktur kami, Ronna Nirmala dan Viriya Singgih. Tubuh manusia menjadi tempat pembuangan akhir bagi mikroplastik. (Project M/Jelita Rembulan) Bernapas Menghirup Plastik: Ketika Warga Kota Tak Punya Pilihan Selain Ikut Menelan Polusi Oleh Ronna Nirmala | Kolaborator Earth Journalism Network (EJN) Para peneliti di dunia...

#DeadPressSociety: Masihkah ada kebebasan pers di Indonesia? Sebagai gambaran represi pers hari-hari ini, yang dituturkan narasumber kami: ada pejabat pemerintah yang rutin mengontak petinggi redaksi atau bos perusahaan media untuk protes soal pemberitaan, minta berita diturunkan, bahkan mengancam kelangsungan bisnis perusahaan. (Project M/Aan K. Riyadi) Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia sekaligus lima tahun berdirinya Project Multatuli, kami ingin mengabarkan soal...

Selamat Hari Buruh untuk Semua Pejuang Rupiah Rekomendasi dari Devina Heriyanto Kelas Pekerja Ibu Kota Pergi Gelap Pulang Gelap, Menghadapi Pelecehan di Perjalanan demi Uang Lemburan Cerita Foto oleh Edy Susanto | Pertama terbit 14 April 2023 Fotografer Edy Susanto merekam perjalanan Zahra Nabila Zulkifli (21), seorang pelaju dan pengguna KRL dari Bogor yang berangkat subuh untuk bisa sampai ke tempat kerjanya di Jakarta. Sebagai kelas pekerja yang mesti membiayai keluarganya juga, Zahra...