Stop Kekerasan terhadap Komunitas LGBTQ: Tidak Ada Kesetaraan dan Inklusivitas Tanpa TransRekomendasi dari Devina Heriyanto Kemarin, Project Multatuli menerbitkan tulisan opini dari manajer tim kami, Nurdiyansah Dalidjo atau akrab disebut Kak Diyan. Dalam Ide dan Esai berjudul "Tidak Ada Kesetaraan dan Inklusivitas Tanpa Trans", Diyan membahas bagaimana represi terhadap individu LGBTIQ+ yang ramai akhir-akhir ini memperparah krisis yang dialami komunitas transgender di Indonesia. Pemerintahan Prabowo Subianto lewat peraturan presiden mengategorikan “penyebaran budaya lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer” sebagai “ancaman nonmiliter … yang membahayakan dan mengancam kedaulatan negara.” Meski sudah diteken sejak 2025, Perpres ini baru ramai lagi seiring dengan memuncaknya serangan di dunia fisik dan digital terhadap komunitas LGBTQ. "Di tengah ekonomi kita yang buruk, serta menguatnya oligarki politik dan militerisme saat ini, di bawah sorotan proyek-proyek ambisius negara seperti MBG yang menyuburkan praktik maling, Presiden Prabowo dan para pembantunya sedang menciptakan LGBTQ sebagai musuh bersama dan sasaran kambing hitam," tulis Diyan. Setelah kami menerbitkan artikel tersebut dan mempromosikannya di media sosial, akun Instagram Project M mendapat komentar kebencian yang bertubi-tubi. Malamnya, akun pribadi Diyan tidak bisa diakses, diduga akibat serangan laporan massal, sebuah taktik yang kerap dilakukan untuk membungkam kritik.
Project Multatuli punya misi untuk melayani yang dipinggirkan. Bagi kami, misi ini berarti konsistensi untuk berpihak pada komunitas yang tertindas: baik sebagai korban pembangunan yang ugal-ugalan ataupun karena identitas yang berbeda--karena perbedaan semestinya tidak menjadi dasar penindasan. Setiap kali kami menerbitkan tulisan yang membela hak hidup komunitas LGBTQ, kami mendapat komentar kebencian atau kekecewaan. Buat kami, ini tidak masalah. Jurnalisme publik akan selalu berpihak pada yang dipinggirkan dan tertindas, meski kadang pelakunya juga bagian dari yang sesama dipinggirkan. Jika kamu percaya bahwa misi ini penting, tolong dukung gerakan jurnalisme publik yang kami usung. |
Project M adalah gerakan jurnalisme publik yang melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan. Langganan nawala kami untuk mendapatkan rekomendasi bacaan berbasis jurnalisme telaten. Dukung kami dengan menjadi Kawan M mulai dari Rp30 ribu per bulan.
AI, Pemilu, dan Kuasa Korporasi: Membaca Laporan Anthropic dari Indonesia Rekomendasi dari Devina Heriyanto Perusahaan AI seperti Anthropic tak bisa menjadi otoritas tunggal dalam menentukan ancaman AI karena kepentingan geopolitik dan bisnisnya menuntut pengawasan independen. (Project M/Herra Frimawati) Pada September lalu, perusahaan teknologi Anthropic yang memproduksi platform kecerdasan buatan (AI) Claude merilis laporan berjudul Detecting and countering misuse of AI. Laporan ini...
Siapa yang Membunuh Bambang Setiawan? Polisi dan #DaruratKekerasanAparat Rekomendasi dari Project Multatuli Anggota Polri dalam gerombolan hitam-hitam pengeroyok Fatur dan Bambang. (Project M) Pada 27 Agustus malam, Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Jakarta Barat, berumur 60 tahun, dikeroyok dan diseret dan dibunuh oleh gerombolan berpakaian hitam-hitam. Bambang adalah penjual cermin dan bingkai di toko Istaka Jaya Frame di Pejompongan Raya, berjarak 50 meter dari gang rumahnya. Ia...
Maramba Eti: Menyembuhkan Luka Perbudakan di Sumba dari Dalam Rekomendasi dari Devina Heriyanto Tugas bersama pemerintah daerah, gereja, LSM, dan masyarakat adalah mengenali keberadaan perempuan ata serta memastikan hak-hak dasar dan martabat mereka tidak lagi terabaikan. (Project M/Sekarjoget) Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, menjadi sorotan publik pada bulan Juli 2026 setelah terbitnya artikel dari kantor berita asal Prancis, Agence France-Presse (AFP) tentang dugaan perbudakan,...